Mobile Apps Consultant, Business Analyst, and Strategic Planner on Crocodic Studio – Jakarta – Semarang – PT. Taman Media Indonesia

Pemanfaatan Teknologi dalam Pendidikan (dan Pembelajaran)

 

Melihat perkembangan teknologi era sekarang sungguh luar biasa, kegiatan yang dahulu dilakukan memakan banyak waktu dan biaya, sekarang dengan teknologi bisa dilakukan dengan lebih singkat. Demikian juga dalam bidang pendidikan, berikut ini saya salin tulisan dari Pak Endy Muhardin yang menurut saya sangat sangat menarik sekali bagaimana dengan teknologi sanggup merevolusi kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan :) dan apa yang beliau tulis memang seperti yang saya impikan 2-3 tahun kebelakang, dan pelan-pelan sudah saya laksanakan dalam proses belajar mengajar di salah satu sekolah negeri di kota Semarang.

Dari sekian banyak mahasiswa/siswa, tidak ada satupun yang mengikuti pembelajaran sesuai dengan kondisi jaman sekarang. Semuanya, tanpa terkecuali, masih kuliah seperti halnya saya kuliah di tahun 1997 dulu. Ya benar, selama 17 tahun tidak ada perubahan metodologi sama sekali.

Padahal ini mahasiswa/siswa jurusan IT/TI/Teknologi Pendidikan/multimedia, yang sepatutnya menjadi yang terdepan dalam hal memahami dan memanfaatkan teknologi terkini. Mereka masih saja:

  • mendengarkan tenaga pendidik berceloteh di depan kelas
  • mencatat celotehan tenaga pendidik dan gambar-gambar yang  dibuat di papan tulis
  • pada saat mau ujian, belajar dari catatan tersebut

Tidak sebanding dengan persenjataan masing-masing individu:

  • Smartphone. Segelintir pakai iPhone, dan mayoritas pakai Android. Minimal Blackberry.
  • Internet Nonstop. Baik paket data dari smartphone maupun internet gratis dari kampus/sekolah.
  • Sesi kuliah selalu diadakan di lab komputer. Masing-masing orang menghadapi PC di depan mukanya, kalaupun tidak di lab, bisa dipastikan hampir 90% peserta didik membawa laptop sendiri

Nah, lalu bagaimana seharusnya??

Ada beberapa poin yang seharusnya dilakukan peserta didik jaman sekarang:

Jangan Mencatat

Gini aja deh

  • Kalau tenaga pendidik menulis di papan tulis, jangan dicatat. Potret saja.
  • Selama sesi perkuliahan/pembelajaran, nyalakan perekam suara untuk merekam omongan dosen/guru.
  • Setelah selesai pembelajaran, investasikan waktu 30 menit untuk:
    • mengetik ulang materi pembelajaran dengan kata-kata kita sendiri
    • tambahkan dengan foto tulisan/diagram yang digambar dosen di papan tulis
    • bila ada hal-hal yang kurang jelas, segera lengkapi dengan bantuan Google.

Tools dan Aplikasi

Pengguna Linux bisa menggunakan aplikasi Shutter untuk mengambil screenshot dan RecordMyDesktop untuk merekam screencast. Bila ingin men-dubbing screencast, rekam dulu penjelasannya pakai smartphone, kemudian gabungkan audio dan video dengan aplikasi OpenShot.

Ok pak. Saya sudah mencatat di luar sesi kuliah menggunakan word processor, tidak lagi pakai buku dan pulpen. Berarti saya kemana-mana harus bawa flashdisk dong?

Tidak perlu. Kan sekarang trend-nya tinggal di awan (Cloud Computing) 😉

Tinggal di Awan

Jaman sekarang, orang berlomba-lomba menyediakan cloud services. Ada 4shared, Dropbox, Youtube, Github, Twitter, Facebook, dan sebagainya. Kita harus manfaatkan layanan gratis ini semaksimal mungkin. Kasihan yang bikin, udah susah-susah bikinnya, kita tinggal pake aja gak mau 😀

Ada beberapa layanan yang saya gunakan, yaitu:

  • Youtube: untuk mengupload hasil screencast. Silahkan tonton dan subscribe.
  • Google Drive untuk menyimpan file-file pendukung kuliah dan bisa digunakan untuk edit dokumen secara “keroyokan” (kolaborasi)
  • Evernote untuk menyimpan catatan-catatan kecil, bisa disisipi gambar, suara dll

Setelah tinggal di awan, jangan introvert. Mari kita bersosialisasi.

Kolaborasi di Socmed

Jaman dulu, orang diskusi di milis. Jaman sekarang milis sudah mulai sepi. Pindah ke Facebook.

Facebook diblokir di kantor/kampus/sekolah? Masih ada grup BBM atau Whatsapp. Pakailah buat diskusi.

Belajar dari Internet

Bapak menteri kita pernah bertanya,

Memangnya kalau internet kenceng, mau dipake apa??

Setelah membaca artikel ini sampai di sini, kamu sekarang bisa menjawab dengan yakin.

Buat belajar pak !! Saya akan donlod semua video tutorial di Youtube. Saya copy ke smartphone saya. Tiap ada waktu luang, misalnya ngantri di ATM, selama kegencet di commutter line, kena macet di angkot, saya akan tonton tutorial tersebut. Insya Allah saya bisa cepet pinter pak, biar bisa gantiin Bapak ngeberesin internet Indonesia 😉

Modal

Wah, dengan segala macam teknologi di atas, pasti modalnya mahal ya Pak? Saya mahasiswa cekak, bokek, pas-pasan.

Tidak juga. Ini cuma masalah prioritas dan kesungguhan aja. Coba kita hitung-hitungan.

Smartphone termurah sekalipun (harga 1 juta ke bawah BNIB) sudah mampu memotret dan merekam suara. Tambahkan budget sekitar 300 ribu untuk memory card berkapasitas 32GB. Sebagai gambaran, rekaman suara 60 menit ukuran filenya 60MB. Dengan 32 GB, kita bisa menampung 500 jam celotehan dosen 😀 Ok lah kita bagi dua menjadi 200 jam, karena separuhnya kita pakai untuk foto papan tulis. Kalau satu foto ukurannya 4MB, maka kita punya space untuk 4000 foto. Cukuplah untuk satu semester.

Lihat kan, dengan 800 ribu rupiah saja sudah dapat prosesor 1Ghz Dual Core, RAM 512MB, Internal Storage 4GB. Sebagai gambaran, waktu saya kuliah tahun 1997 dulu, komputer saya spec-nya 233Mhz single core, RAM 32MB, Harddisk 128MB. Smartphone? Stupidphone aja belum ada. Adanya ini nih

Kalau mau pakai otak, cukup bikin selebaran les privat matematika. Bisa disebar di Facebook, Twitter, atau diprint fotokopi dan sebar di SD/SMP/SMU. Atau kalau malas bikin selebaran dan sebar-sebar, bikin lamaran kerja aja selembar ke bimbingan belajar.

Hmm, solusi pakai otak terlalu berat buat saya. Coba yang satu lagi pak.

Awas, hati-hati otaknya nanti ngambek karena gak pernah dipake 😀

Anyway, ini solusi tanpa otak.

Gambar diambil dari tokonya

Harganya sekitar 30 ribu rupiah di toko olahraga terdekat. Dengan bermodalkan peluit tersebut, kamu tinggal nongkrong di parkiran kampus atau minimarket/warung kopi terdekat. Tiap ada yang mau keluar, “Priiitt !!”. Lumayan 100 kendaraan sehari, masing-masing 1000 rupiah. Setengah hari sudah balik modal untuk beli peluit. Seminggu kebeli deh smartphone.

Ok pak, Berkat strategi peluit, smartphone sudah punya. Gimana dengan akses internetnya?

Paket internet jaman sekarang makin murah dan cepat. Biayanya dibawah 100 ribu sebulan untuk quota 2 – 3 GB.

Wah, saya gak punya uang 100 ribu sebulan Pak. Maklum mahasiswa kere.

Gampang, mau solusi pake otak atau gak pake otak??

Kesimpulan

Jaman makin canggih masak proses pembelajaran masih konvensional aja sih, kan malu sama “tetangga” sebelah, disaat negara tetangga sudah siap-siap menyambut era 5G kita masih ngomongin 3.5G, disaat negara tetangga sudah ngomongin tinggal di Bulan kita masih bahas penyakit aneh yang diderita Olga.

Jadi manfaatkan segala resource kemajuan teknologi untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam berbagai bidang terutama bidang pendidikan, karena dengan pendidikanlah suatu negara bisa maju atau tidak. Dukungan semua pihak sangat penting untuk mewujudkan ini semua, terutama para tenaga pendidik agar mendorong peserta didiknya bisa lebih maju dan mantap dalam menatap masa depan.

Pilihan tetap di tangan Anda :)

Tags: , , , , , , , , , ,

About the Author

About the Author: Krida Pandu Gunata a.k.a pandu32 mulai mengenal dunia IT sejak tahun 2007. Belajar tentang Linux dan Open Source secara autodidak, dan sekarang fokus ke dunia Bisnis Mobile Apps Android dan iOS .

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Leave a Reply

Top
%d bloggers like this: